Daring, 16 Maret 2026 – Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) Kalimantan Timur kembali menggelar diskusi secara daring bertajuk "Ramadhan Talk 2: Pengembangan Agribisnis Sawit Ramah Lingkungan bagi Generasi Muda Menghadapi Era Global". Agenda ini menghadirkan pakar dan praktisi untuk membedah potensi strategis industri sawit nasional serta solusi pangan sehat melalui minyak makan merah.
Hadir sebagai narasumber, Hamka, S.TP., M.Sc., M.P., Direktur POLITANI Samarinda dan Giusty Surya Adyatama, S.P., Senior Estate Manager PT Teladan Prima Agro Tbk, dengan dipandu oleh moderator Ir. Panggulu A.R. Utoro, S.TP., M.T. dari Universitas Mulawarman.
Acara dibuka oleh Putra Peni Luhur Wibowo yang memberikan sambutan mewakili Pimpinan IKA UB Kaltim. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa sektor agribisnis, khususnya kelapa sawit, memiliki tanggung jawab sekaligus peluang besar dalam agenda lingkungan global.
"Industri sawit tidak hanya dipandang dari sisi ekonomi, tetapi juga perannya dalam penyediaan oksigen dan juga penyerapan emisi karbon. Dengan pengelolaan yang tepat dan berbasis berkelanjutan, perkebunan sawit dapat menjadi bagian dari solusi mitigasi perubahan iklim di Indonesia," ujarnya.

Menepis Tren Penurunan Minat Agribisnis
Senada dengan hal tersebut, moderator Ir. Panggulu A.R. Utoro, S.TP., M.T. menyoroti pentingnya regenerasi petani di tengah tren menurunnya minat generasi muda. Beliau menegaskan bahwa agribisnis masa depan adalah sektor berbasis teknologi dan inovasi. "Generasi muda harus melihat sawit sebagai ladang inovasi—mulai dari manajemen emisi karbon hingga produksi pangan fungsional seperti minyak makan merah. Jika kaum terpelajar tidak turun tangan, potensi besar ini tidak akan berkelanjutan," tegas Panggulu.
Sawit Ramah Lingkungan: Tantangan dan Peluang
Dalam paparannya, Giusty Surya Adyatama menekankan pentingnya penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan, Good Agricultural Practices guna menjawab tuntutan pasar global. Giusty menyoroti bahwa efisiensi pengelolaan kebun yang mengedepankan aspek lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi perusahaan kelapa sawit untuk tetap kompetitif di era global.
"Generasi muda memiliki peran krusial dalam melakukan transformasi digital di sektor agribisnis, mulai dari monitoring lahan berbasis teknologi hingga optimalisasi rantai pasok yang transparan dan ramah lingkungan," jelas Giusty.
Inovasi Minyak Makan Merah (MMM)
Selain aspek budidaya, diskusi ini juga mengupas tuntas potensi hilirisasi kelapa sawit, khususnya Minyak Makan Merah (MMM). Hamka menjelaskan bahwa MMM merupakan solusi pangan sehat yang kaya akan Vitamin A dan Vitamin E (Tokoferol & Tokotrienol) serta Skualena. Berbeda dengan minyak goreng biasa yang melalui proses pemucatan (bleaching), MMM mempertahankan kandungan nutrisi alami sawit.
"Minyak makan merah bukan hanya soal kesehatan, tapi juga solusi ekonomi. Dengan teknologi produksi yang lebih sederhana dan dapat dikelola oleh koperasi atau UKM, ini adalah peluang besar bagi masyarakat dan alumni UB untuk terlibat langsung dalam kemandirian pangan lokal dengan harga yang terjangkau," ujar Hamka.
Sekretaris IKA UB Kaltim, Ahmad Busri menyampaikan, kegiatan Ramadhan Talk 2 ini merupakan bagian dari komitmen IKA UB Kaltim dalam memberikan kontribusi pemikiran dan edukasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kalimantan Timur yang merupakan salah satu sentra sawit terbesar di Indonesia. Melalui diskusi ini, diharapkan para alumni UB, generasi muda dan masyarakar dapat melihat sektor agribisnis sawit tidak hanya dari sisi komoditas mentah, tetapi sebagai industri masa depan yang inovatif, sehat, dan berkelanjutan.
IKA UB Kaltim
Solid Sinergi Jaya
DOKUMENTASI











